SeDaRI HaKiKaT DuNia HaRi iNi

Make Money With cashCrate - Join me!!

Kehidupan adalah anugerah utama Ilahi. Anugerah khdupan ini memberi gambaran kebesaran-Nya buat kita semua. Anugerah ini wajib kita syukuri dan haragai. Internet adlh kemudahan buat umat manusia yg tdk kira umur, pangkat, agama, bangsa, Negara dan yg sewaktu dgnnya. Justeru itu, manfaatkanlah ia utk kesejahteraan diri kita dan umat sejagat. Sentiasalah kita beringat bhw apa shja yg kita lakukan akan dip't/jawabkan pda kemudian hari.


Gunakan sebaik-baiknya kurnia Allah swt kpd kita. Halalkan kegunaan akal. Hati dan lidah pda perkara yg bakal membawa kpd kecemerlangan diri kita samaada di dunia mahupun di akhirat. Kita hidup hanya sekali. Sekali ‘pergi’ tak akan ‘kembali’. Bak pepatah melayu,’buat baik berpada-pada dan buat jahat JANGAN sekali’. Kewujudan website ini dgn blog sbg wadah utk meningkatkan nilai diri. Bermatlamatkan penyatuan ummah dgn ciri-ciri kemurnian budi dan budaya. Walaupun dunia terus maju dgn teknologi, kita seharusnya terus mengekalkan akhlak dan jati diri insani.

SEJARAH RASULULLAH SAW

Posted by beMuslim on Jul 25, '07 12:34 PM for everyone
KATA PERKENALAN  
Oleh almarhum Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi (Rektor Magnificus Universitas Al-Azhar) 

SEJAK manusia berada di permukaan bumi ini, hasratnya ingin mengetahui segala hukum dan kodrat alam yang terdapat di sekitarnya, besar sekali. Makin dalam ia meneliti, makin tampak kepadanya kebesaran alam itu, melebihi yang semula. Kelemahan dirinya makin tampak pula dan keangkuhannyapun makin berkurang. 

Demikianlah, Nabi yang membawa Islam itupun sama pula dengan alam itu. Sejak bumi ini menerima cahaya Nabi, para ulama berusaha mencari segi-segi kemanusiaan yang besar daripadanya, mencari nilai-nilai Asma Allah dalam pemikirannya, dalam akhlaknya, dalam ilmunya. Dan kalaupun mereka mampu mencapai pengetahuan itu seperlunya, namun sampai kini pengetahuan yang sempurna belum juga mereka capai. Perjuangan yang mereka hadapi masih panjang, jaraknya masih jauh, jalannyapun tak berkesudahan.

Kenabian  adalah  anugerah  Tuhan,  tak  dapat  dicapai dengan usaha. Akan tetapi ilmu dan kebijaksanaan Allah yang  berlaku, diberikan kepada orang yang bersedia menerimanya, yang sanggup memikul  segala  bebannya.  Allah  lebih  mengetahui  di  mana risalah-Nya   itu  akan  ditempatkan.  Muhammad  s.a.w.  sudah disiapkan membawa risalah (misi) itu ke seluruh dunia, bagi si putih  dan  si  hitam, bagi si lemah dan si kuat. Ia disiapkan membawa risalah agama yang sempurna, dan  dengan  itu  menjadi penutup  para  nabi dan rasul, yang hanya satu-satunya menjadi sinar  petunjuk,  sekalipun  nanti   langit   akan   terbelah, bintang-bintang  akan  runtuh  dan  bumi  inipun akan berganti dengan bumi dan angkasa lain.

Kesucian para nabi dalam membawa risalah dan meneruskan amanat wahyu  itu,  adalah  masalah yang tak dapat dimasuki oleh kaum cendekiawan. Bagi para  nabi,  sudah  tak  ada  pilihan  lain. Mereka menerima risalah dan amanat, dan itu harus disampaikan, sesudah mereka  diberi  cap  dengan  stempel  kenabian.  Tugas menyampaikan  amanat  demikian  itu  sudah menjadi konsekwensi wajar bagi  seorang  nabi,  yang  tak  dapat  dielakkan.  Akan
tetapi,  tidak  selamanya  wahyu itu menyertai para nabi dalam tiap perbuatan dan kata-kata mereka. Mereka juga  tidak  bebas dari  kesalahan.  Bedanya  dengan  manusia  biasa, Allah tidak membiarkan mereka hanyut dalam kesalahan  itu  sesudah  sekali terjadi, dan kadang mereka segera mendapat teguran.

Muhammad   s.a.w.   telah   mendapat   perintah   Tuhan   guna menyampaikan amanat itu, dengan tidak  dijelaskan  jalan  yang harus  ditempuhnya,  baik dalam cara menyampaikan risalah atau dalam  cara,  mempertahankannya.   Pelaksanaannya   diserahkan kepadanya,   menurut  kemampuan  akalnya,  pengetahuannya  dan kecerdasannya,   sebagaimana   biasa   dilakukan   oleh   kaum cerdik-pandai   lainnya.   Kemudian  datang  wahyu  memberikan penjelasan secara tegas tentang segala sesuatu  yang  mengenai Zat Tuhan,   ke-EsaanNya,   Sifat-sifatNya  serta  cara-cara beribadat. Tetapi  tidak  demikian  tata-cara  kemasyarakatan, dalam  keluarga,  tentang  desa dan kota, tentang negara, baik yang berdiri sendiri  atau  yang  terikat  oleh  negara-negara lain.

Di  samping  itu  masih  banyak  sekali bidang lain yang harus diselidiki sehubungan dengan  kebesaran  Nabi  s.a.w.  sebelum datangnya  wahyu.  Juga  tidak kurang kebesaran itu yang harus diselidiki sesudah datangnya wahyu. Ia  menjadi  utusan  Tuhan dan mengajak orang kepadaNya. Ia melindungi ajakannya (dakwah) itu serta membela  kebebasan  para  penganjurnya.  Ia  menjadi pemimpin  umat  Islam,  menjadi panglima perangnya; ia menjadi mufti,  menjadi  hakim  dan   organisator   seluruh   jaringan komunikasi  dalam  hubungan  sesamanya dan antar-bangsa. Dalam segala hal ia  dapat  menegakkan  keadilan.  Ia  mempersatukan bangsa-bangsa  dan  kelompok-kelompok  itu, sesuai dengan yang dapat   diterima   akal   sehat.   Ia   telah   memperlihatkan kemampuannya  berpikir,  ketenangannya serta pandangannya yang jauh. Ia dapat memperlihatkan kecerdasannya serta kemampuannya berpikir cepat dan tepat dengan keteguhan hati terhadap setiap kata  dan  perbuatan.  Ia  telah  menjadi  sumber   ilmu   dan pengetahuan.  Ia  menjadi  lambang kefasihan, yang menyebabkan para ahli  dalam  bidang  itu  harus  takluk  dan  menundukkan
kepala,  mengakui  kebesaran  dan  kedahsyatannya. Akhirnya ia melepaskan dunia fana ini dengan rela hati atas  pekerjaannya, yang  juga  sudah  mendapat  kerelaan  Allah dan kaum Muslimin pula.

Semua segi itu perlu sekali dijadikan bahan  studi  dan  perlu mendapat  pengamatan  yang lebih teliti. Supaya semua segi itu dapat dilaksanakan dengan baik, tentu  tidak  dapat  dilakukan oleh hanya seorang saja. Bahkan satu segi sajapun takkan dapat dicapai.

Sebagaimana terhadap sejarah hidup orang-orang besar  umumnya, orang biasanya suka menambahkan hal-hal yang tidak semestinya, demikian juga terhadap sejarah hidup  Muhammad  s.a.w.  --baik karena  didorong  oleh  rasa  cinta  dan  maksud baik, ataupun karena didorong oleh  rasa  dengki  dan  maksud  jahat.  Hanya bedanya  dari  biografi  orang-orang besar itu ialah, bahwa di sini tidak  sedikit  yang  disertai  dengan  wahyu  Ilahi  dan jaminan  akan  terpeliharanya  Qur'an  Suci,  disamping  tidak sedikit pula  keterangan-keterangan  dari  mereka  yang  hafal Qur'an  daripada  ahli-ahli  hadis  yang dapat dipercaya. Atas landasan-landasan yang kuat  itulah  penulisan  sejarah  harus didasarkan,  dan  dari  situ pula para sarjana harus mengambil sumber-sumber  pemikiran  dan  penelitiannya.  Kemudian   lalu membuat suatu analisa yang benar-benar ilmiah sifatnya, dengan melihat    suasana     lingkungan     dan     milieu     serta kepercayaan-kepercayaan,  susunan masyarakat dan adat-istiadat dari segala seginya yang berbagai ragam itu. 

Dalam hal ini Dr. Haekal telah menyelesaikan  karyanya,  Hayat Muhammad,  tentang  peri  hidup  Muhammad s.a.w. Dengan senang hati sekali saya  telah  membaca  sebagian  buku  itu  sebelum seluruhnya selesai dicetak. Di kalangan pembaca berbahasa Arab Dr. Haekal sudah  cukup  dikenal  dengan  karya-karyanya  yang tidak  sedikit  jumlahnya,  sehingga  tidak perlu lagi rasanya diperkenalkan. Dia  adalah  seorang  sarjana  hukum  dan  ahli
filsafat.   Posisi   dan  sifat  jabatannya  memungkinkan  dia mengadakan hubungan  dengan  kebudayaan  lama  dan  kebudayaan modern.  Dalam  hal  ini ia telah dapat melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya. Ia  sering  bertukar  pikiran  dan  berdiskusi mengenai   masalah-masalah   kepercayaan,   pandangan   hidup, mengenai kaidah-kaidah sosial, politik dan sebagainya.  Dengan demikian    ia   berpikir   lebih   matang,   pengalaman   dan pengetahuannyapun makin luas,  pandangannya  juga  cukup  jauh pula.  Ia  dapat  mempertahankan pendapatnya itu dengan logika dan argumentasi yang kuat , dengan gayanya yang khas dan sudah cukup dikenal.

Dengan  intelegensia  dan  kemampuan semacam itulah Dr. Haekal menulis bukunya itu. Dalam kata pengantarnya ia menyebutkan:
 "Sungguhpun begitu saya tidak beranggapan,  bahwa  saya  sudah sampai  ke  tujuan  terakhir  dalam  menyelidiki sejarah hidup Muhammad.  Bahkan  barangkali  akan  lebih  tepat  bila   saya katakan,  bahwa  saya  baru  dalam  taraf permulaan mengadakan penyelidikan dengan metoda ilmiah yang baru dalam bahasa  Arab ini.

Mungkin  pembaca akan terkejut bila saya katakan, bahwa antara dakwah  Muhammad  dengan  metoda   ilmiah   modern   mempunyai persamaan   yang   besar   sekali.  Metoda  ilmiah  ini  ialah mengharuskan  kita  --apabila  kita  hendak  mengadakan  suatu penyelidikan-- terlebih dulu kita membebaskan diri dari segala prasangka, pandangan hidup dan kepercayaan yang sudah ada pada diri  kita,  yang  berhubungan  dengan  penyelidikan  itu.  Di situlah  kita  memulai   dengan   mengadakan   observasi   dan eksperimen,  mengadakan perbandingan yang sistematis, kemudian baru   dengan   silogisma   yang   sudah   didasarkan   kepada premisa-premisa   tadi.   Apabila   semua   itu   sudah  dapat
disimpulkan,  maka  kesimpulan   demikian   itu   pun   dengan sendirinya  masih  perlu  dibahas  dan diselidiki lagi. Tetapi bagaimanapun juga ini sudah merupakan suatu data ilmiah selama penyelidikan  tersebut belum memperlihatkan kekeliruan. Metoda ilmiah demikian ini ialah yang terbaik yang  pernah  --dicapai umat manusia demi kemerdekaan berpikir. Metoda dan dasar-dasar dakwah demikian inilah yang menjadi pegangan Muhammad".

Bahwa metoda demikian ini adalah metoda Qur'an, hal itu  sudah tidak  perlu  diragukan  lagi. Bagi Qur'an rasio harus menjadi juru penengah, sedang yang  harus  menjadi  dasar  ilmu  ialah pembuktiannya.  Qur'an  mencela  sikap  meniru-niru  buta  dan mereka-reka yang hanya didasarkan pada prasangka.  "Dan  bahwa prasangka  itu  tidak berguna sedikit pun terhadap kebenaran"1 Mengkultuskan suatu kebiasaan,  yang  hanya  karena  dilakukan oleh  nenek  moyang,  juga  dicela.  Qur'an mengharuskan orang berdakwah itu dengan pikiran yang bijaksana. Kekuatan  mujizat Muhammad s.a.w. hanyalah dalam Qur'an, dan mujizat ini sungguh rasionil adanya.

Sajak Bushiri2 berikut ini memang indah sekali:

   Tidak sampai kita dicoba
   Yang akan meletihkan akal karenanya
   Sebab sayangnya kepada kita
   Kita pun tak ragu, kita pun tak sangsi.

Kalau cara pembahasan demikian ini merupakan suatu  cara  yang baru,  memang  suatu  hal yang tak dapat dielakkan. Dr. Haekal sudah bergaul dengan ulama dan sarjana-sarjana lain dalam  hal ini.   Dan   memang   ini   pula  cara  Qur'an  seperti  sudah dikatakannya tadi. Dan memang itu pula  yang  pernah  ditempuh sarjana-sarjana   Islam   dahulu.  Coba  kita  lihat  misalnya buku-buku ilmu kalam (teologi spekulatif); mereka  menentukan, bahwa    kewajiban   kita   pertama   ialah   mengenal   Tuhan (ma'rifatullah). Yang lain berkata: Tidak. Yang pertama  harus ditempuh  ialah  syak (skepsis). Lalu tak ada jalan lain untuk mencapai   ma'rifat   (connaissance)   itu   kecuali    dengan pembuktian.  Dan  kalaupun  itu  dapat  digolongkan  ke  dalam pengertian syllogisma  namun  premisa-premisanya  harus  sudah pasti  dan dapat dirasakan, dan secara intuitif akhirnya dapat pula dipahami berdasarkan pengalaman yang sempurna  dan  dapat dipastikan  sungguh-sungguh, seperti sudah biasa dikenal dalam logika.  Setiap  kesalahan  yang  dapat  menyusup   ke   dalam premisa-premisa  itu atau ke dalam bentuk penyusunannya, dapat merusak pembuktian tersebut.

Yang menempuh jalan demikian ini  ialah  Imam  Ghazali.  Dalam salah  satu  bukunya  ia  mengatakan,  bahwa  terlebih dulu ia membebaskan diri dari segala macam konsepsi. Kemudian baru  ia berpikir  dan menimbang kembali, menyusun kembali lalu membuat
beberapa perbandingan.  Dikemukakannya  beberapa  argumentasi, diujinya  dan dianalisa. Dari semua itu kemudian ia memperoleh petunjuk, bahwa Islam  dan  tuntunan  yang  diberikan  menurut konsepsi  Islam  adalah benar. Imam Ghazali melakukan ini guna menghindarkan hal-hal yang bersifat taklid. Ia  ingin  membina keimanannya  itu atas dasar iman yang pasti, yang berlandaskan argumen dan pembuktian, yakni  iman  yang  kebenarannya  sudah menjadi pegangan kaum Muslimin tanpa ada khilafiah.

Juga  dalam  buku-buku  ilmu  kalam  tidak sedikit kita jumpai kisah abstraksi (pembebasan diri dari segala  kepercayaan  dan konsepsi)  yang  sudah  biasa  dikenal  dalam  rukun iman itu, kemudian dibahas dan  ditinjaunya  kembali.  Abstraksi  adalah cara yang sudah lama ada, juga dengan cara-cara eksperimen dan penyelidikan sudah lama ada. Eksperimen dan penyelidikan  yang sempurna  ialah hasil daripada suatu observasi. Semua itu bagi kita bukan barang baru. Akan tetapi cara-cara lama  ini,  baik dalam  teori  maupun  praktek,  yang  subur  di Timur hanyalah cara-cara taklid dengan  mengabaikan  peranan  rasio.  Sesudah
kemudian  oleh  orang  Barat  dikeluarkan kembali dalam bentuk yang lebih matang sehingga  dapat  dimanfaatkan  --baik  dalam teori  ataupun  praktek--  kitapun lalu kembali mengambil dari sana. Demikian juga dalam ilmu pengetahuan kita  menganggapnya sebagai sesuatu yang baru pula.

Ketentuan  ilmiah  dalam  cara penyelidikan demikian ini sudah cukup dikenal,  baik  yang  lama  maupun  yang  modern.  Untuk sekedar  mengetahui  memang mudah, tapi melaksanakannya itulah yang sulit. Orang tidak banyak  berselisih  pendapat  mengenai
pengetahuan tentang hukum, misalnya. Tetapi dalam melaksanakan ketentuan hukum itu, pendapat orang jauh sekali berbeda-beda.

Membebaskan diri  dari  konsepsi,  observasi  dan  eksperimen, induksi  dan deduksi, adalah kata-kata yang mudah. Akan tetapi bagi orang yang sudah begitu jauh hanyut dalam  beban  warisan yang  sudah  mendarah  daging,  dalam  beban lingkungan, dalam rumah tangga, dalam desa, kota,  negara  atau  dalam  sekolah, tekanan-tekanan   kepercayaan   yang  sudah  ada,  temperamen, kesehatan, penyakit serta  segala  macam  nafsu,  bagaimanakah
akan   dengan   mudah  melaksanakannya?  Di  sinilah  terletak penyakit itu, dahulu dan sekarang. Itu  pula  sebab  timbulnya bermacam-macam    aliran    dan    berubah-ubahnya   pendapat, berpindah-pindah dari  daerah  ke  daerah  lain,  dari  bangsa kepada  bangsa  lain.  Seperti  juga kaum wanita yang berganti mode, filsafat dan peradaban pun berganti corak, generasi demi generasi.  Dan  jarang  sekali  ada  sesuatu yang tak lapuk di hujan tak lekang  di  panas.  Bahkan  perubahan  itu  berjalan sesuai   dengan  kaidah-kadiah  ilmu  pengetahuan  yang  sejak berabad-abad   tidak   pernah   diragukan.   Terhadap    teori
relativitas  misalnya,  para  sarjanapun goyah dan cepat-cepat merombaknya.  Pendapat-pendapat  tentang   patologi,   tentang terapi,  tentang  gizi,  semua  ini  masih  dalam  proses yang berubah-ubah. Demikian juga apabila kita  perhatikan  pelbagai
macam produk otak manusia tidak pernah stabil sebelum disertai pembuktian dengan syarat-syarat yang cukup.

Akan tetapi apa artinya semua ini  meskipun  sudah  dilengkapi dengan  segala pembuktian, bila dibandingkan dengan yang lain, yang  sudah  penuh   dengan   segala   macam   prasangka   dan angan-angan,  yang sudah sarat oleh pikiran-pikiran yang sakit
atau di bawah tekanan politik. Hal inilah  yang  diketengahkan oleh para ulama dan sarjana yang gemar mengadakan pertentangan dengan  pihak  lain,  dengan  melahirkan   aliran-aliran   dan pendapat-pendapat  demikian itu! Kekacauan pikiran ini mungkin
akan mengurangi semangat ulama atau sarjana-sarjana yang hanya mendewa-dewakan   akal   semata.   Dan   pada   waktunya  akan mengalihkan pandangan mereka kepada  kebenaran  dan  keimanan, yakni  wahyu yang sebenarnya, yaitu Qur'an Suci dan Sunah yang sahih.

Baiklah, sekarang kita kembali kepada Dr. Haekal  dan  bukunya ini.

Beberapa    ahli   ilmu   kalam   mengatakan,   bahwa   dengan memperhatikan astronomi dan anatomi jelas  sekali  menunjukkan sempurnanya kodrat Ilahi tentang susunan alam ini. Dan sayapun memperkuat pendapat ini, bahwa ilmu pengetahuan  dan  penemuan mengenai   ketentuan-ketentuan   serta  segenap  rahasia  alam semesta inipun akan menjadi pendukung agama, akan  memperdekat pikiran  manusia  menempuh jalan pengertian yang tadinya masih kabur, yang tadinya masih di luar jangkauan otaknya.  Akhirnya akan  dapat  memahami, sejalan seperti yang difirmankan Tuhan:

"Akan segera Kami perlihatkan bukti-bukti Kami  dalam  segenap penjuru  alam dan dalam diri mereka sendiri, sehingga ternyata bagi mereka bahwa inilah Kebenaran itu. Belum cukupkah,  bahwa Tuhanmu menjadi Saksi atas segalanya?3

Soal-soal   elektro  dan  segala  yang  dihasilkannya  seperti penemuan-penemuan lainnya, membantu otak kita memahami  adanya perubahan   benda  kepada  tenaga  dan  tenaga  kepada  benda. Demikian juga spiritualisma telah banyak  menerangkan  hal-hal yang  tadinya  masih  dipersengketakan;  ternyata ini membantu memahami adanya pembebasan ruh dan kemungkinan terpisahnya ruh itu  serta  memahami  kecepatan yang dimiliki ruh itu menempuh jarak yang jauh. Dr. Haekal telah memanfaatkan hal  ini  dalam mengartikan  kisah  Isra  dengan  cara yang agak baru. Rasanya akan terlalu panjang saya bicara bila harus menguraikan faedah yang  akan  kita  peroleh  dari  buku Dr. Haekal ini. Cukuplah kalau  saya  sebutkan  secara  keseluruhan  saja.  Orang  akan melihat  sendiri  keindahannya,  akan  menikmati sendiri hasil pikirannya yang didasarkan  kepada  bahan-bahan  yang  otentik itu,  didasarkan  kepada  pemikiran  yang logis, yang didukung
oleh bawaan sewajarnya. Orang akan melihat  bahwa  Dr.  Haekal sungguh  jujur  dalam  mencari  kebenaran,  keyakinan memenuhi kalbunya  akan  hidayah  dan  nur  yang  dibawa  dalam   wahyu Muhammad,   akan   keindahan,   kebesaran,   suri-teladan  dan kemuliaan yang terdapat dalam biografi Nabi  s.a.w.  Ia  sudah yakin  seyakin-yakinnya,  bahwa  agama  yang  dibawa  Muhammad inilah yang akan mengangkat umat manusia dari sarang kebalauan
dan  kebingungan,  yang  akan mengangkat mereka dari kegelapan materi, dan menyinari mata hati  mereka  dengan  cahaya  iman, mengantarkan  mereka  kepada  Nur Ilahi. Mereka akan menyadari betapa luas rahmat Tuhan yang meliputi segalanya  itu,  betapa besar  keagunganNya, seluruh langit dan bumi memuliakanNya dan segala yang  ada  memuliakanNya;  betapa  besar  kekuasaanNya, segala yang ada menjadi kecil di hadapanNya.

Seperti dikatakannya: "Dengan melihat lebih jauh dari itu saya berpendapat,  penyelidikan  demikian  sudah  seharusnya   akan mengantarkan  umat  manusia ke jalan peradaban yang selama ini dicarinya. Apabila  pihak  Nasrani  di  Barat  merasa  dirinya terlampau  besar  akan  mendapatkan cahaya baru itu dari Islam dan dari Rasul, lalu menantikan cahaya itu  akan  datang  dari teosofi  India  dan  dari  pelbagai macam aliran di Timur Jauh lainnya, maka orang-orang di Timurpun, baik umat Islam, Yahudi atau  Kristen,  layak sekali bertindak mengadakan penyelidikan berharga ini,  dengan  sikap  yang  bersih  dan  jujur,  yakni
satu-satunya cara yang akan mencapai kebenaran.

Cara  pemikiran  Islam  yang  pada  dasarnya  adalah pemikiran ilmiah menurut metoda modern  dalam  hubungan  manusia  dengan lingkungan  hidup  sekitarnya,  yang  dari  segi ini realistik sekali,  berubah  menjadi  pemikiran  yang  subyektif   ketika masalahnya  menjadi  hubungan  manusia dengan alam semesta dan Pencipta alam".

Dan katanya  lagi:  "Akan  tetapi  adanya  gejala-gejala  akan lenyapnya   paganisma  yang  sekarang  menguasai  dunia  kita, mengemudikan kebudayaan yang  berkuasa  sekarang  (the  ruling culture),  tampak  jelas  sekali  bagi  setiap  orang yang mau mengikuti  jalannya  sejarah  dan  peristiwa-peristiwa  dunia. Apabila secara khusus dipelajari sungguh-sungguh sejarah hidup Muhamnad itu  sebagai  Nabi  serta  ajaran-ajarannya,  masanya serta   revolusi   rohani  yang  terbesar  ke  seluruh  dunia, barangkali gejala-gejala ini akan makin jelas  di  depan  mata dunia,  bahwa  masalah-masalah rohani ini timbul dari pengaruh sebagai peninggalannya."

Dan keyakinan ini diperkuat oleh  kenyataan,  bahwa  apa  yang sekarang  dapat  dilihat  dari  perhatian pihak Barat terhadap penyelidikan  peninggalan-peninggalan  Timur  serta  perhatian
para  sarjana  mengadakan  studi  tentang  Islam  dari  segala seginya, tentang umat Islam masa kini dan  masa  lampau  serta kesadaran   sebahagian   mereka  terhadap  diri  Nabi  s.a.w., ditambah pula oleh pengalaman yang memperkuat, bahwa kebenaran pasti  akan  menang,  --semua itu menunjukkan bahwa Islam akan mengembangkan panjinya ke segenap  penjuru  dunia,  dan  orang yang  kini  sangat keras memusuhinya, dia juga nanti yang akan
menjadi orang paling bersemangat membelanya, dan  mereka  yang tadinya  masih asing itu akan menjadi kawan seperjuangan pula. Sebagaimana pada  mulanya  Islam  mendapatkan  pembelaan  dari orang-orang  asing  (dari  luar)  lingkungan masyarakat tempat kelahirannya, juga  akhirnya  orang-orang  asing  (luar)  dari bahasa  dan tanah airnya itu yang akan membelanya. Islam telah dimulai secara asing  dan  akan  kembali  asing  seperti  pada
mulanya. Maka bahagialah orang-orang yang asing itu!

Apabila Nabi s.a.w. adalah Nabi penutup dan takkan ada lagi di dunia ini seorang penunjuk dan pembimbing  lain  sesudah  dia, dan  agamanyapun  agama  yang  sempurna sebagaimana ditegaskan oleh wahyu, maka tidak mungkin keadaannya akan berhenti sampai
di  situ  saja  seperti selama ini. Cahayanya pasti akan pudar oleh yang lain, sama halnya seperti bintang-bintang yang  jadi pudar oleh sinar matahari.

Dr. Haekal yang merangkaikan peristiwa-peristiwa itu satu sama lain memang tepat  sekali.  Bukunya  inipun  ternyata  disusun dalam komposisi dan gaya yang teratur dan kuat. Diterangkannya alasan-alasan, maksud dan  pertimbangannya  dengan  keterangan
yang  jelas  dan  kuat sekali, membuat pembaca merasa puas dan lega, merasa ada gairah dalam membaca,  merasa  sejuk  hatinya karena  dapat diyakinkan. Ia akan terpengaruh, akan dipaksanya terus membaca dan takkan melepaskannya sebelum selesai.

Dalam buku ini terdapat beberapa penyelidikan berharga di luar penulisan  biografi,  tetapi  yang ada hubungannya dengan soal itu yang terbawa  oleh  adanya  penguraian  lebih  luas  dalam memberikan keterangan itu.

Saya  sudahi  pengantar  saya  ini  dengan  ucapan  Rasulullah --salam  baginya  dan  bagi  keluarganya   yang   suci   serta sahabat-sahabatnya:  "Aku  berlindung kepada Nur WajahMu, yang telah menyinari kegelapan, dan karenanya  membawakan  kebaikan bagi  dunia  dan  akhirat  -  daripada  kemurkaanMu  yang akan Kautimpakan kepadaku, atau kebencianMu yang  akan  Kauturunkan kepadaku.  KeridaanMu  juga  yang  kuminta. Tak ada suatu daya upaya kalau tidak dengan Allah."

15 Pebruari 1935.
MUHAMMAD NIUSTAFA AL-MARAGHI

Catatan kaki:
  1. Qur'an, 53: 28.
  2. Syarafuddin Muhammad al-Bushiri penyair Arab berasal Barbar di Afrika Utara, lahir di Mesir sekital 1212. Ia terkenal sekali hanya karena antologinya Al-Burda ("Mantel"). Ia pernah tinggal lama di Darussalam (Yerusalam) kemudian di Hijaz. Puisi-puisinya yang masyhur itu ditulis di Mekah.  Pada mulanya ia menderita penyakit lumpuh. Dalam tidurnya penyair ini konon bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad yang datang kepadanya dan menyelimutinya dengan mantelnya. Bushiri terkejut bangun dan melompat, sehingga ketika itu juga ia sembuh dari kelumpuhannya. Lalu ia menulis puisinya yang luar biasa itu, lembut dan mengharukan, sebagai dedikasi dan eulogi kepada Nabi Muhammad. Bushiri meninggal sekitar tahun 1294 di Iskandaria. Al-Burda terjemahan bahasa Inggris The Scarf dilakukan oleh Faizullah Bahi (1893) dan dalam bahasa Indonesia oleh Dr. Moh. Tolchah Mansoer. SH (A).
  3. Qur'an, 41: 53

  S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D, oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
  diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
  Penerbit PUSTAKA JAYA
  Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
  Cetakan Kelima, 1980
  Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Make Money With CashCrate