SeDaRI HaKiKaT DuNia HaRi iNi

Make Money With cashCrate - Join me!!

Kehidupan adalah anugerah utama Ilahi. Anugerah khdupan ini memberi gambaran kebesaran-Nya buat kita semua. Anugerah ini wajib kita syukuri dan haragai. Internet adlh kemudahan buat umat manusia yg tdk kira umur, pangkat, agama, bangsa, Negara dan yg sewaktu dgnnya. Justeru itu, manfaatkanlah ia utk kesejahteraan diri kita dan umat sejagat. Sentiasalah kita beringat bhw apa shja yg kita lakukan akan dip't/jawabkan pda kemudian hari.


Gunakan sebaik-baiknya kurnia Allah swt kpd kita. Halalkan kegunaan akal. Hati dan lidah pda perkara yg bakal membawa kpd kecemerlangan diri kita samaada di dunia mahupun di akhirat. Kita hidup hanya sekali. Sekali ‘pergi’ tak akan ‘kembali’. Bak pepatah melayu,’buat baik berpada-pada dan buat jahat JANGAN sekali’. Kewujudan website ini dgn blog sbg wadah utk meningkatkan nilai diri. Bermatlamatkan penyatuan ummah dgn ciri-ciri kemurnian budi dan budaya. Walaupun dunia terus maju dgn teknologi, kita seharusnya terus mengekalkan akhlak dan jati diri insani.

Wednesday, August 18, 2010

SiLaTuRaHiM


Silaturahim: Ikhtiar Menuju Trasendensi dan Ummah
Arif Mulyadi

Dalam buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Iqbal mengutip sebuah hadis Nabi saw yg berbunyi:'Takhallaqu bi akhlaqillah' yg artinya "berakhlaklah dgn akhlak Allah".

Pda dasarnya manusia memiliki ego yg hidup, berkembang n mpy kekuatan sendiri. Dalam pandangan Iqbal, ego merupakan suatu kekuatan yg akn mengantarkn manusia ke tingkat hidup yg lebih tinggi dan mulia, hgga ia mencapai tahap insan. Ego dlm diri insan inilah yg menghantarkan manusia menjadi pribadi. Dengan memperkuat pribadi (ego), manusia dpt mndekati Ego Mahabesar, Tuhan dgn sgla kesempurnaan-Nya. Dgn kkuatan ego ini, manusia akan mengejawantahkan (sifat-sifat) Tuhan dlm dirinya.
Tatkala dibenturkan dengan kenyataan sosialnya-- dalam sebuah realitas sosial yang absurd yakni saat modus interaksi sosial di tingkat kultur dan struktur, sumber -sumber otentik Islam (Al-Quran n Sunnah) tidak dijadikan bingkai rujukan- manusia Muslim seringkali brda pda noktah krisis eksistensial. T'lbih lagi ketika idealita yg menjadi obsesi n dambaan hidup begitu paradoks dgn kenyataan yg ada. Di sini, penjara kenyataan masyarakat telah menjauhkan manusia dari misi sucinya, yakni tatkala ia tdk mampu membuktikan sosoknya sbg aktor sejarah. Alih-alih menjadi aktor sejarah, ia terpola dgn persepsi dan formalitas masyarakat krn dibentuk dgn sistem nilai yg lain, dengan sifatnya yang nisbi.

Bagi seorang Mukmin sejati persoalan2 tersebut takkan menjadi keniscayaan jika hubungan2 simbiotik-organik baik di antara sesama Mukmin sbg aktor sejarah maupun rumusan2 gagasan interpretatifnya atas kenyataan sosial- begitu terjalin scra tegas n erat. Bentuk2 hbngan ini akn t'jdi mllui silaturahim. Scra harfiah, silaturahim tdk hny bermakna menyambungkan tali kasih sayang. Akn ttpi, lebih jauh mpy potensi utk mengubah bangunan2 sosial yg ada bila dilakukn scra intensif, memiliki kekuatan informatif, dan teratur.

Menempatkn silaturahim scra signifikan dlm aktivitas ksjrahan komunitas Syi’ah -scra khusus, dgn mmnjam ujran Ali Syari’ati (1993) ihwal tanggungjawab sejarah- berarti mendudukkan silaturahim secara fungsional yakni:
(1) sebagai proses integrasi pada kekuatan sejarah;
(2) sebagai proses transformasi dan pelembagaan sistem nilai; (3) sebagai proses aktualisasi sunnah yang hidup.

Berikut penjelasan scra sederhana ihwal fungsi2 silaturahim:

1. Sebagai proses integrasi pd kekuatan sejarah: Kepentingan pertama silaturahim adalah menjadikannya sbg proses integrasi pda kekuatan sejarah. Ada hubungan dialektis pada silaturahim dalam budaya khas dengan bingkai masyarakat Muslim. Pertama, silaturahim terwujud krna kesadaran mendalam akan eksistensi diri, yaitu kesadaran yang dibangun atas dasar pembuktian akan kebenaran scra rasional Islam vis a vis sistem keyakinan ideologi lain -baik scra normatif maupun historis- dlm bentuk manifestasinya ke tingkat praksis kehidupan.

Kedua, silaturahim akn membangun ksdaran setiap individu akn beban sejarah -dalam ujaran Syari’ati, ini disebut tanggung jwab sosial Syi’ah- yg karenanya maka hidupnya akn menyejarah dan bukan menyerah pada sejarah.

Prses integrasi ini t'cpai krn t'jdinya diskursus intelektual dan spiritual yg harmonis, sehingga mampu mengatasi kebekuan dan b'bgai krisis eksistensial yg mungkin terjadi, dan akan menjadikan kenyataan sosial sbg tantangan, peluang, n harapan utk meraih buah spiritual. Silaturahim, dgn dmikian, b'fungsi sbg "ice-breaker" (pemecah kebekuan) atas kenyataan sosial.

Ringkasnya, elan vital (semangat dasar) sltrahim sbg proses integrasi ini akan menjadikan bangunan masyarakat Muslim sebagai sebuah keniscayaan.

2. Sebagai proses transformasi dan pelembagaan sistem nilai:
Silaturahim sbg proses transformasi dan pelembagaan sistem nilai akan mengukuhkan sistem nilai itu sendiri shgga tidak pernah memberi ruang t'jdinya akumulasi scra teoretis, namun secara tepat akan mengatasi seluruh bentuk ikatan primordial.

Dgn sltrahim, sstem nilai yg dibngun pra pecinta Ahlulbayt Nabi as spt tawhid, keadilan Ilahi, kenabian, imamah, dan qiyamah m'jdi terpelihara. Scra pasti, silaturahim akan menyatukan komunitas Syi’ah pada visi dan orientasi yg jelas. Hal ini dimungkinkan mengingat platform Imamah dalam paham Syi’ah memiliki ketegasan dan kejelasan dibandingkan dengan konsep-konsep kepemimpinan mazhab manapun.

Bagi komunitas Syi’ah, silaturahim dalam makna fungsional ini menuntut sikap kritis agar pemihakan (berwilayah) kepada Ahlulbayt Nabi as. dapat dibuktikan secara rasional.

Mnmpatkn silaturahim sbg proses transformasi dan pelembagaan sistem nilai bermakna adanya tuntutan untuk membuka ruang dialog kritis dan pertanyaan yang serius: sejauh mana sistem nilai Syi’ah mampu diterapkan dlm dunia khdupan (lebenswelt) masyarakat secara optimal. Apresiasi terhadap pertanyaan ini selayaknya dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Dengan pertanyaan instrospektif ini, diharapkan seorang Syi’ah tidak terpaku pada masa lalu, tanpa mengemban suatu tanggung jawab sosial di masa depan. Dengan demikian, ia akan melepaskan klaim kebenaran (truth claim) secara historis an sich dan bergerak menuju suatu intizhar (penantian Imam Zaman) yang positif. Ia tidak hanya hapal sejarah berdarah para Imam Ahlulbaytas. namun ia akan menciptakan sejarah --dengan kepemimpinan Al-Mahdi as.-- guna menegakkan keadilan dan kebenaran.
3. Sebagai proses aktualisasi sunnah yang hidup: Islam sbg sistem gagasan yang serba mencakup menuntut pembumian atau realisasi. Jika kedua dimensi fungsional silaturahim tersebut bermuara pada fungsi baik pada kekuatan sejarah maupun sistem nilai, maka silaturahim sbg proses aktualisasi ini menjadi jabaran nyata dalam realitas sosio-kultural masyarakat kita.

Seluruh tema Al-Quran Suci yg menjadi ciri khas dlm kehidupan masyarakat Muslim -seperti fastabiqul khairat, ta’awun, tawshiyah dsb- menjadi aktual. Silaturahim, dengan demikian, akan mengajak kita untuk mewarisi tradisi Para Nabi dan Para Imam as. Inilah sunnah yang hidup yakni tradisi yang mengharuskan terjadinya perubahan (transformasi) baik secara individual maupun sosial.

Ketiga dimensi fungsional inilah yang penulis pandang akan menjadikan silaturahim memenuhi makna hadis yang dikutip di muka yakni proses menciptakan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia.

Selanjutnya, makna silaturahim ini akan terefleksikan secara khas dan sakral baik secara individual maupun sosial yang akan penulis coba elaborasi dalam dua sub tema berikut .

Silaturahim dan Transendensi: Ketiga dimensi fungsional silaturahim tersebut penulis anggap sebagai premis-premis utama dalam membicarakan titik artikulasi yang tegas antara silaturahim dan transendensi. Seperti yang telahdisebutkan, ketiga dimensi tadi berarak menuju pada satu muara yaitu menghadirkan Tuhan dalam diri manusia. Pertama-tama ini harus dipahami lebih bercorak individual yaitu bagaimana silaturahim ini menjadi manifestasi agung sebagai bukti penyerahan total kepada Tuhan Yang Penyayang (Al-Rahim). Di sini jelas, silaturahim bersifat habluminallah (transenden) dan sakral dan bukan aktivitas interaksi fisis dan mekanis. Keadaan seperti ini amat bergantung kepada pengalaman spiritualitas dan pencerahan ruhani seseorang yang tentu perlu latihan terus menerus.

Dalam hadis qudsi, misalnya, disebutkan bahwa Allah menisbatkan diri-Nya sebagai orang yang sakit, orang yang lapar, yang menegur manusia yang tidak menengok-Nya. Menengok orang yang sakit, memberi makan orang yang lapar seolah -olah merupakan perjumpaan antara seorang manusia dengan Tuhan. Seluruh gerak psiko-motorik manusia pada hakikatnya merupakan manifestasi dari kecenderungan batin manusia, demikian Iqbal ketika menjelaskan relasi antara gerak manusia dengan ego-nya.

Berarti di sini, dengan meminjam ungkapan Iqbal tadi, terdapat relasionitas antara pemikiran (pengetahuan) dengan perspektif dirinya (eksistensinya). Teori ini penulis pandang mampu menjabarkan fenomena-fenomena sosial yang nampak dalam masyarakat kita seperti keterasingan (alienasi), krisis eksistensial, rasa pesimis antara cita dan harapan yang kesemuanya jelas diakibatkan pemikiran yang dihasilkan dari pergulatan dengan realitas sosialnya. Intensitas pergulatan dengan pemikiran dlm konteks pemihakan yg jelas (berwilayah) kpd Ahlul bayt Nabi as akan mengeliminasi b'bgai problem2 tersebut. Secara normatif, hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi Islam Saw. yang menyatakan bahwasanya berpegang kepada Ahlulbaytnya akan menyelamatkan manusia dari bencana dan kebinasaan. Sejauh mana pemihakan (berwilayah) kpd Ahlulbayt Nabi Saw. mampu memecahkan persoalan amat tergantung kpd kemampuan untuk membisosiasikan (:menafsirkan dan mengaitkan antara teks/fakta yang satu dengan teks/fakta yang lain) realitas dengan pijakan normatif dr mereka - alaihimussalam.

Silaturahim akn meyelaraskan pemikiran setiap individu, krn wacana spiritual dan intelektual yang terjadi akan memberikan kerangka yg jelas bagi setiap interpretasi kehidupan. Dengan silaturahim, landasan gerak individu mempunyai tarikan yang jelas dengan konsep kepemimpinan (Imamah) yang hakiki, karena pemihakan yg dilakukannya. Silaturahim dlm spektrum yg lebih luas, baik dri makna silaturahim gagasan maupun silaturahim emosional akan mengantarkan individu pda pengenalan yg lebih dalam ttg Tuhan. Silaturahim yang ditempatkan pada kenyataan hidup ini pada gilirannya akan mengajak setiap individu untuk mengabdi dan melayani secara total seluruh kehidupannya kepada Yang Mutlak.

Silaturahim dan Ummah: Al-Quran meletakkan amanah kepada kaum Muslimin dua hal : transedensi dan ummah. Dgn mengutip Roger Garaudy, Ummah merupakan suatu masyarakat yang didasarkan pada sistem nilai (kepercayaan), dan bukannya dalam arti yang terdapat dalam komunitas keagamaan. Ummah adalah masyarakat yang tidak saja bersifat religius, namun di dalam masyarakat itu keimanan memasuki segala tindakan --dan karenanya sistem tindakan mengandung dimensi esoterik. Kehidupan menjadi bukan kehidupan pribadi semata tetapi par excellence kehidupan sosial dan kehidupan politik.

Senada dengan Garaudy, adalah penting untuk kita mengutip pendapat dari Muthahhari ihwal ciri-ciri Ummah. Dalam bukunya yang berjudul Masyarakat dan Sejarah (1992:21-24), Muthahhari menyebutkan bahwasanya Ummah (society) merupakan:
'Suatu senyawa sejati, sebagaimana senyawa-senyawa alamiah. Tetapi, yang disintesis di sini adalah jiwa, pikiran, kehendak, serta hasrat, sintesisnya bersifat kebudayaan, bukan kefisikan. Unsur-unsur bendawi, yang dalam proses aksi dan reaksi, saling susut dan lebur, menyebabkan munculnya suatu wujud baru, dan berkat reorganisasi ini, mewujudlah suatu senyawa baru, dan unsur-unsur itu terus maujud dengan identitas baru.... yang diistilahkan sebagai "jiwa kemasyarakatan".'
Dari sana, akan terlahir suatu gagasan sejarah bersama, cita-cita bersama, damn sampai pada akhirnya timbul perilaku bersama. Tentu ini tidak berarti mengingkari adanya perbedaan yang bersifat inheren pada setiap manusia.

Khulasah: Dari paragraf-paragraf tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwasanya silaturahim tidak semata-mata bersifat kontak fisik. Akan tetapi, ia memiliki makna spiritual dan historis yang tinggi. Dalam silaturahim terdapat tiga dimensi fungsional yang akan bermuara pada dua noktah yakni transendensi dan ummah.

Ketiga dimensi fungsional tersebut adalah sebagai:

(1) proses kekuatan sejarah;
(2) proses tranformasi dan pelembagaan sistem nilai dan;
(3) proses aktualisasi sunnah ang hidup.

Semoga dengan ibadah puasa Bulan Ramadhan silam serta Hari Raya Iedul Fitri yang baru saja kita laksanakan mampu menyegarkan kembali makna silaturahim dan menghidupkan silaturahim terus menerus dengan seluruh makna yang terkait.

Wallahu 'alam

No comments:

Post a Comment

Make Money With CashCrate